Sabtu, 26 Oktober 2013

Epidemiologi Kesehatan Reproduksi "EPIDEMIOLOGI MASALAH KESEHATAN ABORSI DAN REMAJA"

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dewasa ini di Indonesia terdapat beberapa masalah kesehatan penduduk yang masih perlu mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari semua pihak antara lain: anemia pada ibu hamil, kekurangan kalori dan protein pada bayi dan anak-anak, terutama di daerah endemic, kekurangan vitamin A pada anak, anemia pada kelompok mahasiswa, anak-anak usia sekolah, serta bagaimana mempertahankan dan meningkatkan cakupan imunisasi. Permasalahan tersebut harus ditangani secara sungguh-sungguh karena dampaknya akan mempengaruhi kualitas bahan baku sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang.
Perubahan masalah kesehatan ditandai dengan terjadinya berbagai macam transisi kesehatan berupa transisi demografi, transisi epidemiologi, transisi gizi dan transisi perilaku. Transisi kesehatan ini pada dasarnya telah menciptakan beban ganda (double burden) masalah kesehatan.
1.      Transisi demografi, misalnya mendorong peningkatan usia harapan hidup yang meningkatkan proporsi kelompok usia lanjut sementara masalah bayi dan balita tetap menggantung.
2.      Transisi epidemiologi, menyebabkan beban ganda atas penyakit menular yang belum pupus ditambah dengan penyakit tidak menular yang meningkat dengan drastis.
3.      Transisi gizi, ditandai dengan gizi kurang dibarengi dengan gizi lebih.
4.      Transisi perilaku, membawa masyarakat beralih dari perilaku tradisional menjadi modern yang cenderung membawa resiko.
Masalah kesehatan tidak hanya ditandai dengan keberadaan penyakit, tetapi gangguan kesehatan yang ditandai dengan adanya perasaan terganggu fisik, mental dan spiritual. Gangguan pada lingkungan juga merupakan masalah kesehatan karena dapat memberikan gangguan kesehatan atau sakit.
 Perkataan abortus dalam bahasa Inggris disebut abortion berasal dari bahasa latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Sardikin Ginaputra dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia memberi pengertian abortus sebagai pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Kemudian menurut Maryono Reksodipura dari Fakultas Hukum UI, abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah). Dari pengertian di atas dapat dikatakan, bahwa abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan sebelum janin itu dapat hidup di luar kandungan.
 Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi/ datang bulan/ haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta ”dibereskan janinnya” itu. Maka jelaslah, bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah abortus provocatus criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter. Karena itu abortus dan menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung. Karena itu, berdasarkan Kitab UU Hukum Pidana (KUHP) pasal 299, 346, 348 dan 349, negara melarang abortus, termasuk menstrual regulation dan sangsi hukumannya cukup berat bahwa
Borring E.G. ( dalam Hurlock, 1990 ) mengatakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari anak-anak kemasa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Sedangkan Monks, dkk ( dalam Hurlock, 1990 ) menyatakan bahwa masa remaja suatu masa disaat individu berkembang dari pertama kali menunjukkan tanda-tanda seksual, mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak menjadi dewasa, serta terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan yang mandiri.

B.    Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas yang mejadi batasan dalam makalah ini adalah mendeskripsikan bagaimana epidemiologi masalah kesehatan, aborsi dan epidemiologi remaja.

C.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini untuk mengetahui bagaiaman epidemiologi masalah kesehatan, aborsi dan epidemiologi remaja.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Epidemiologi Masalah Kesehatan
1.      Pendahuluan ( gambaran data )
Menurut WHO masalah kesehatan utama yang menjadi penyebab kematian pada manusia adalah penyakit kronis. Penyakit kronis merupakan jenis penyakit degeneratif yang berkembang atau bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama, yakni lebih dari enam bulan. Menderita penyakit kronis merupakan salah satu pengalaman yang bersifat  stressful bagi hampir semua penderita. Orang yang menderita penyakit kronis cenderung memiliki tingkat  kecemasan yang tinggi dan cenderung mengembangkan  perasaan hopelessness dan helplessness karena berbagai macam pengobatan  tidak dapat membantunya sembuh dari penyakit kronis.
Di Amerika Serikat, penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia. Terdapat kecenderungan peningkatan insidensi  dan prevalensi GGK. Pada penduduk yang berusia di atas 20 tahuun diperkirakan prevalensinya adalah 0,1% (300.000 orang) untuk gagal ginjal pada tahap akhir (GGTA) dan 10,8% dari populasi  dewasa (20 juta orang) untuk gagal ginjal stadium awal.
Di Indonesia sendiri, masalah kesehatan yang paling marak terjadi yaitu penyakit TB. Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat 5 dunia penderita TB terbanyak setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini turun  dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China.
            2.      Pengertian
Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lainnya di luar kesehatan itu sendiri. Masalah kesehatan tidak hanya ditandai dengan keberadaan penyakit tetapi gangguan kesehatan yang ditandai dengan adanya perasaan terganggu fisik, mental, dan spiritual. Gangguan pada lingkungan juga merupakan masalah kesehatan karena dapat memberikan gangguan kesehatan atau sakit.

    3.      Ruang lingkup dan Masalah
Ruang lingkup masalah kesehatan menurut Fletcher  yaitu : (6D)
a.       Death ( Kematian )
b.      Disease ( Penyakit )
c.       Disability ( Kecacatan )
d.      Discomfort ( Kekurangnyamanan )
e.       Dissatisfaction ( Kekurangpuasan)
f.       Destituion ( Kelemahan )

          4.      Kehamilan Tidak Diinginkan
Menurut Kamus Istilah Program Keluarga Berencana, Kehamilan tidak diinginkan adalah kehamilan yang dialami oleh seorang perempuan yang sebenarnya belum menginginkan atau sudah tidak menginginkan hamil (BKKBN,2007). Sedangkan menurut PKBI, kehamilan tidak diinginkan merupakan suatu kondisi dimana pasangan  tidak menghendaki adanya kelahiran akibat kehamilan. Kehamilan juga merupakan akibat dari suatu perilaku seksual yang bisa di sengaja. Banyak kasus  yang menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang tidak bertanggung jawab atas kondisi ini. Kehamilan yang tidak diinginkan ini dapat dialami oleh pasangan yang sudah menikah  maupun yang belum menikah.
Terdapat banyak alasan bagi seorang perempuan tidak menginginkan kehadiran seorang anak pada saat tertentu dalam hidupnya. Menurut Kartono Muhammad, ada beberapa alasan yang membuat kehamilan itu tidak diinginkan yaitu:
a.       Kehamilan yang terjadi karena perkosaan
b.      Kehamilan datang pada saat yang belum diharapkan
c.       Bayi dalam kandungan ternyata cacat majemuk yang berat.
d.      Kehamilan yang terjadi akibat hubungan seksual di luar nikah

Menurut PKBI ( Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ) tahun 1998, banyak alasan yang dikemukakan mengapa kehamilan tidak diinginkan sebagai berikut :
a.       Penundaan dan peningkatan jarak usia perkawinan dan semakin dini usia menstruasi pertama. Usia menstruasi yang semakin dini dan usia perkawinan yang semakin tinggi menyebabkan “masa-masa rawan” semakin panjang. Hal ini terbukti banyaknya kasus hamil di luar nikah.
b.      Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seksual yang dapat mengakibatkan kehmailan
c.       Tidak menggunakan alat kontrasepsi terutama pada perempuan yang sudah menikah.
d.      Kegagalan alat kontrasepsi
e.       Kondisi kesehatan ibu yang tidak menginginkan kehamilan
f.       Persoalan ekonomi (biaya untuk melahirkan dan membesarkan anak)
g.      Alasan karir atau masih sekolah (karena kehamilan dan konsekuensi lainnya idanggap dapat menghambat karir atau kegiatan belajar)
h.      Kehamilan karena incest (hubungan seksual antara yang masih sedarah)

Berbagai akibat yang ditimbulkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan antara lain :
a.       Kehamilan yang tidak diinginkan dapat mengakibatkan alhirnya seorang anak yang tidak diinginkan (unwanted child), dimana anak ini akan mendapat cap buruk sepanjang hidupnya. Masa depan :anak yang tidak diinginkan” ini sering mengalmai keadaan yang menyedihkan karena anak ini tidak medapat kasih sayang dan pengasuhan yang semestinya dari orang tuanya, selain itu perkembangan psikologisnya juga akan terganggu.
b.      Terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan juga dapat memicu terjadinya pengguguran kandungan (aborsi) karena sebagian besar perempuan yang mengalaii kehamilan yang tidak diinginkan mengambil keputusan atau jalan keluar dengan melakukan aborsi, terlebih lagi aborsi yang tidak aman.

Berikut adalah cara efektif untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan yaitu :
a.       Mencegah kehamilan dengan coitus interuptus
Metode ini juga dikenal dengan  metode senggama terputus. Teknik ini dapat mencegah kehamilan dengan cara sebelum terjadi ejakulasi pada pria, seorang pria harus menarik penisnya dari vagina sehingga tidak setetespun sperma masuk ke dalam rahim wanita.
b.      Mencegah kehamilan dengan teknik kalender
Teknik ini sangat erat berkaitan dengan kemampuan seorang wanita untuk mengetahui masa suburnya. Dengan teknik kalender, seorang wanita diharapkan dapat mencegah terjadinya kehamilan dengan cara tidak melakukan hubungan intim di waktu 3 sampai 5 hari sebelum masa subur.
c.       Mencegah kehamilan dengan alat kontrasepsi
Penggunaan alat kontrasepsi merupaka satu hal yang paling masuk akal. Walaupun tingkat keberhasilannya untuk mencegah kehamilan mendekati 100% banyak masyarakat kita enggan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Alat pencegah kehamilan tersebut adalah sebagai berikut :
1)      Kondom
2)      Pil KB : pil KB yang di rasa efektif untuk mencegah kehamilan biasanya pil KB yang berisi kombinasi hormon pencegah kehamilan.
3)      Susi/norplant/implant : hampir sama dengan pil KB, nusuk/norplant ini setelah tertanam dalam tubuh wanita akan mengeluarkan hormon pencegah kehamilan secara terus menerus.
4)      Menggunakan injeksi : teknik ini dengan cara menyuntikkan obat Depo Provera yang berisikan hormon  ke dalam tubuh wanita dalam waktu tertentu. Biasanya wanita yang ingin mencegah kehamilan diberi 2 opsi utuk melakukan suntik secara bulanan atau setiap tiga bulan sekali.
5)      Menggunakan diagfragma dan kap serviks uterus : teknik ini bekerja untuk mencegah kehamilan dengan  cara memasukkan diagfragma/kap karet kedalam vagina selama enam jam sebelum berhubungan intim.

d.      Mencegah kehamilan dengan teknik steril
Metode steril dibagi dua bagian yaitu : metode operasi wanita dan metode operasi pria. Kedua metode ini dilakukan dengan cara operasi oleh dokter spesialis kandungan. Pada wanita dilakukan pemutusan atau pemasangan cincin pada saluran telur untuk mencegah sel telur yang lepas di indung telur menuju rahim.


B.     Epidemiologi Aborsi
1.      Pendahuluan ( gambaran data )
Menurut WHO di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilannya dan melakukan aborsi. Setiap tahun sekitar 500.000 ibu mengalami kematian disebabkan kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50% diantaranya meninggal akibat abortus yang tidak aman.
Pada tahun 1997 menurut Bank Dunia unsafe abortion ( aborsi yang tidak aman ) merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu 13%, di samping itu berbagai penyebab langsung dan tidak langsung lainnya.
Menurut The John Hopkins School of Public Health dalam Population Reports-nya tahun 1997 di Amerika Latin terdapat 100 kematian dari 100.000 aborsi, di Asia 400 kematian per 100.000 aborsi dan di Afrika 600 kematian per 100.000 aborsi.
Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ), diperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta jiwa dari 5 juta kelahiran per tahun. Bahkan 1-1,5 juta diantaranya adalah kalangan remaja.  Data yang dihimpun Komnas Perlindungan Anan Indonesia (KPAI) menemukan dalam kurun waktu 2008-2010 kasus aborsi terus meningkat.  tahun 2008 ditemukan 2 juta jiwa anak korban aborsi, tahun berikutnya 2009 naik 300.000 menjadi 2,3 juta janin yang dibuang paksa. Sementara itu, pada tahun 20120 naik dari 200.000 menjadi 2,5 juta jiwa. 62,6% pelaku diantaranya adalah anak berusia dibawah 18 tahun.
Data dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat, pelaku aborsi justru paling banyak adalah perempuan yang sudah menikah karena program KB-nya gagal. Data dari Studi PKBI di 12 kota dari tahun 2000-2011 juga menunjukkan 73-83% wanita ingin aborsi adalah wanita menikah karena kegagalam kontrasepsi.
Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) 2004 tentang aborsi atau pengguguran kandungan, tingkat aborsi di Indonesia sekitar 2 sampai 2,6 juta kasus pertahun, yang 30% dari aborsi tersebut dilakukan oleh mereka di usia 15-24 tahun.
Kenyataan bahwa kasus aborsi telah banyak terjadi bukanlah sekedar isu atu wacana belaka. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Atas Hendartini dibeberapa wilayah Indonesia menunjukan bahwa telah terjadi tindakan aborsi dengan berbagai cara, seperti tindakan sendiri, bantuan dukun, dengan akupuntur, melalui orang pintar, tindakan bidan, dilakukan oleh dokter umum atau dengan bantuan ahli kandungan

2.      Pengertian
Aborsi adalah proses menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedoteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil kontrasepsi ( pertemuan sel sperma dan sel telur) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah proses pengakhiran hidup dari janin sebelum di beri kesempatan untuk bertumbuh.

3.      Klasifikasi
Aborsi dikalsifikasikan menjadi 3 macam yaitu :
a.       Aborsi spontan/alamiah : berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kirang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
b.      Aborsi buatan/sengaja : pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter,bidan atau dukun beranak)
c.       Aborsi terapeutik/medis : pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan calon bayi dan ibu. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.

4.      Ruang lingkup dan Masalah
Menjadi batasan permasalahan aborsi adalah pergaulan kaitannya dengan seks pra nikah, perkosaan, takut dianggap sebagai aib, dan kontrasepsi yang gagal yang dapat menyebabkan dampak bagi kesehatan.

5.      Penyebab
Beberapa kalangan menyakini faktor penyebab melakukan aborsi adalah kehamilan yang tidak direncanakan akibat dari :
a.       Seks pranikah
Dilakukan saat usia mereka diliputi rasa penasaran dan ingin mencoba, tapi tidak mau bertanya pada orang tua ataupun guru konseling, dan terlebih lagi pengetahuan mereka tentang kontrasepsi masih minim. Akhirnya mereka mendapatkan informasi dari sumber-sumber yang salah seperti film porno dimana yang menjadi korban adalah perempuan jika kehamilan tidak diinginkan (KTD) terjadi, meskipun aborsi dilakukan maupun tidak.
b.      Perkosaan
Dalam kasus perkosaan jelas bahwa jika terjadi KTD, perempuan pasti akan menolak keberadaan janin dalam rahimnya, perasaan dendam, tidak menginginkan, depresi, harus menghadapi stigma miring masyarakat yang tidak menganggap ia sebagai korban. Sehingga aborsi menjadi solusi terbaik yang diambil.
c.       Kontrasepsi yang gagal.
Aborsi ini sering dilakukan oleh perempuan yang sudah menikah, dengan alasan ekonomi, melanjutkan pendidikan, ikatan kerja, alasan tidak ingin menambah anak, serta alasan kesehatan.
d.      Takut dianggap aib keluarga
Selain faktor diatas, ada faktro eksternal yang lebih mendorong terjadinya aborsi dilihat dari konstruksi sosial kebanyakan perempuan mengambil keputusan aborsi karena faktor-faktor diluar dirinya, perempuan takut akan kemarahan keluarga , tidak mau dianggap sebagai aib keluarga, tertekan, perasaan belum siap menjadi ibu, dan malu pada lingkungannya.
Masyarakat lebih cenderung memberi penghakiman norma kesusilaan dan stigma negatif pada perempuan yang mengalami KTD pranikah maupun pada anak yang yang di dalam rahimnya. Akhrirnya, segala hal tersebut terakumulasi dan aborsi menjadi solusi terbaik dari tekanan konstruksi sosial yang terjadi.

6.      Dampak
a.       Mendadak demam
b.      Menggigil karena banyak mengeluarkan darah
c.       Sakit di sekitar perut, kram atau sakit di sekitar punggung
d.      Perut yang terasa lunak atau skait jika di tekan
e.       Pendarahan yang berlebihan, bahkan menjurus mengalir darah dengan deras
f.       Pengeluaran vagina yang berbau bususk atau disertai darah speerti menstruasi
g.      Mengalami penundaan lebih untuk mendapatkan silkus menstruasi kembali.
h.      Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
i.        Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
j.        Rahim yang sobek ( uterine perforation )
k.      Kanker payudara ( karena ketidakseimbangan hormon astrogen pada wanita )
l.        Kanker indung telur ( cervical cancer )
m.    Kelainan pada placenta /ari-ari ( placenta previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berkutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berkutnya.

7.      Pencegahan
a.       Kampanye kondom
b.      Pengetahuan pendidikan seks : Peran orang tua dan sekolah turut serta dalam memberi pengetahun seks yang sesuai dengan jenjang usia anak. Orang tua harus lebih terbuka pikirannya bahwa pendidikan seks bukanlah hal yang tabu, tapi penting. Maka dari itu kedekatan anak dan orang tua harus terjalin. Jangan sampai seorang anak melakukan seks pranikah, perkosaan, hanya karena alsan ingin tahu akibat dari sumber informasi yang salah
c.       Pengetahuan aborsi aman
d.      Pengetahun mengenai kontrasepsi yang sesuai dan terjangkau perlu digalakkan pada setiap lapisan masyarakat
e.       Bimbingan konseling perlu bagi mereka yang mengalami KTD, agar aborsi bukan dijadikan solusi final.

C.     Epidemiologi Remaja
            1.      Pendahuluan ( gambaran data )
Menurut WHO tahun 2009, jumlah remaja di dunia saat ini mencapai  1,2 milyar  dan satu dari lima orang di dunia ini adalah remaja. Di Asia Tenggara, jumlah remaja mencapai  18%-25% dari seluruh populasi di daerah tersebut.
Berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia tahun 2006, remaja Indonesia (usia 10-19 tahun) berjumlah sekitar 43 juta jiwa atau 19,61% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2008 , jumlah remaja di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 62 juta jiwa. Di provinsi Jawa Barat menurut Badan Pusat Statistik tahun 2008 jumlah remaja (usia 10-19 tahun) sebanyak 8.145.616 jiwa yang terdiri dari 51,8% laki-laki dan 48,2% perempuan. Remaja 15-24 tahun di Indonesia berdasarkan SP 2010 berjumlah 40,75 juta dari seluruh penduduk yang berjumlah 237,6 juta jiwa.

      2.      Pengertian
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahn. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (strom and stress).
Menurut WHO remaja adalah bila anak telah mencapai umur 10-19 tahun. Menurut Undang-Undang No.4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum menikah. Menurut Undang-Undang Perburuhan, anak dianggap remaja bila telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat tinggal sendiri.
Menurut Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974, anak dianggap remaja bila sudah cukup matang untuk menikah yaitu 16 tahun untuk anak perempuan dan 19 tahun untuk anak laki-laki. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menganggap remaja bila sudah berusia 18 tahun sesuai dengan saat lulus dari sekolah menengah .

      3.      Faktor Risiko Reproduksi Remaja
a.       Remaja seringkali kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi,keterampilan menegoisasikan hubungan seksual dan akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau serta terjaminnya kerahasiaannya.
b.      Kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, sehingga memungkinkan terjadinya masalah kesehatan tersebut.
c.       Biasanya dipengarhui oleh faktor derajat sosial ekonomi yang berhubungan dengan tingkat pendidikan  yang rendah, dan ketidak tahuan mengenai perkembangan seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil.
d.      Tekanan kelompok sebaya dan pengaruh media.
e.       Faktor lingkungan dimana remaja tersebut, berada baik itu di lingkungan keluarga, kelompok sebaya ataupun desa.
f.       Faktor di dalam individu yang cukup menonjol adalh sikap permisif dari individu yang bersangkutan.
g.      Faktor budaya antara lain adalah praktek tradisional yang berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rejeki dan informasi yang membingungkan anak dan remaja mengenai fungsi dan proses reproduksi.
h.      Faktor psikologis , keretakan orangtua akan memberikan dampak pada kehidupan remaja.

      4.      Ruang lingkup dan Masalah
Masalah yang dihadapi oleh remaja terutama yang berumur antara  12-18 tahun dalam mendapatkan pelayanan kesehatan  adalah sering kali mereka dibuat bingung karena dianggap anak sudah lewat  sehingga tidak dapat dilayani  di bagian anak  tetapi sebagai orang dewasa belum sampai. Pelayanan kesehatan terhadap mereka harus dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris bangsa.
Masalah-masalah kesehatan reproduksi yang sering yang terjadi pada remaja adalah :
a.       Kehamilan yang tidak di inginkan
b.      Abortus
c.       Penyakit menular seksual (PMS)

        5.      Kondisi-kondisi yang berperan dalam intervensi
Di dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan intervensi perlu diingat beberapa kondisi di bawah ini:
a.       Karena kompleksnya permasalahan, hampir selalu remaja diperlakukan sebagai target sasaran tahu objek. Padahal remaja mempunyai banyak potensi yang berguna yang dapat diikutsertakan dalam pembangunan. Dilihat dalam kodratnyapun setiap remaja memiliki kemampuan untuk bereproduksi, sehingga dengan demikian juga mempunyai tanggung jawab untuk menghasilkan generasi penerus yang bekualitas. Sebaiknya, bila remaja dianggap sebagai subjek ia akan terlihat penuh dalam turut memikul tanggung jawab pembangunan, sehat dan produktif , memiliki iman, ilmu dan kepribadian, berprestasi dan mempunyai harga diri.
b.      Konteks perbedaan suasana pedesaan dan perkotaan sampai saat ini memang masih “valid” untuk dipakai sebagai salah satu factor di dalam membina reproduksi sehat remaja. Imbalan dan pengaruh yang dating dari luar mungkin sama, Tetapi kadar penerimaan atau penolakan terhadap pengaruh tersebut berbeda dipedesaan dan perkotaan.
c.       Intervensi akan lebih berhasil bila dilakukan melalui upaya menghilangkan atau memperkecil factor penyebab. Sebaliknya bila interfensi yang hanya dilakukan secara dangkal dengan target menghilangkan atau memperkecil gejala yang timbul, cenderung untuk memberi hasil sementara dan tidak memuaskan.


BAB III
KESIMPULAN

            Masalah kesehatan saat ini didominasi akibat gaya hidup, transisi epidemiologi telah mengakibatkan pergeseran faktor perilaku menjadi penyebab utama kejadian penyakit khususnya penyakit degeneratif, faktor perilaku yang dimaksud adalah gaya hidup dan budaya yang mengakibatkan aborsi dan permasalahan remaja. Untuk itu semua lapisan masyarakat harus saling berkoordinasi untuk meningkatkan pengawasan dan bimbingan mengenai masalah kesehatan aborsi dan permasalahan remaja.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Cara Mencegah Kehamilan. Akses www.bidanshop.blogspot.com

Anisa, Rifka. 2013. Problematika Aborsi di Indonesia. Akses www.rifkaanisa.blogdetik

Aminuddin, Ridwan. 2007. Bab V Identifikasi Masalah Kesehatan. Akses  www.ridwanamiruddin.com


Dhyka. 2010. Masalah Kesehatan Reproduksi Terhadap Remaja. Akses www.dhyka1207.blogspot.com

Fitriasih, Evi. 2011. Epidemiologi Abortus yang Tidak Aman. Akses www.evifitriasih.blogspot.com

Novie. 2012. Dampak Aborsi. Akses www.novia92.blogspot.com



Poskan komentar dengan
Poskan komentar dengan

Tidak ada komentar: