Jumat, 25 Oktober 2013

Kasus Demam Berdarah Dengue di Desa Lampasio Kabupaten Toli Toli

Mata Kuliah    : Epidemiologi Gawat Darurat
Dosen              : Henni Kumaladewi H, SKM, M. Kes
 


KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE
DI DESA LAMPASIO KABUPATEN TOLI-TOLI

DISUSUN OLEH :
YUSRIANI
210240032

FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE
2013
KATA   PENGANTAR

Puji Syukur atas hidayah dan rahmat ilmu serta kekuatan dari Ilahi Rabbi yang telah dicurahkan kepada penyusun makalah ini sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam juga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta junjungannya karena keindahan budi pekerti yang menjadi suri tauladan kita.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini belum mencapai ekspektasi yang diharapkan. Namun penulis mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Demam Berdarah Dengue adalah demam tinggi mendadak 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas, terdapat tanda-tanda perdarahan (bintik-bintik merah/ptekie, mimisan perdarahan pada gusi, muntah/berak darah), ada perbesaran hati dan dapat timbul syok (pasien gelisah, nadi cepat dan lemah, kaki tangan dingin, kulit lembab, kesadaran menurun. Pada pemeriksaan laboratorium terdapat hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit 20%) dan trobositopeni (trombosit < 100.000/mm3).
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan salah satu penyakit menular yang potensial menimbulkan kejadian luar biasa/wabah. Sejak pertama ditemukan penyakit DBD di Indonesia pada tahun 1968, jumlah kasus cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas, sehingga kejadian luar biasa (KLB)/wabah masih sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
DBD disebabkan oleh virus dengue yg ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang hidup di dalam dan di sekitar rumah, sehingga penularannya terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penular tersebut.
Berdasarkan Laporan W1 KLB/Wabah oleh Puskesmas Lampasio tanggal 14 Maret 2011 bahwa telah ditemukan kematian karena menderita DBD sebanyak 1 orang dari 44 kasus. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk memberikan deskripsi mengenai kasus kejadian demam berdarah dengue di Kecamatan Lampasio Kabupaten Toli-toli.

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas untuk memberikan gambaran kasus demam berdarah dengue di Desa Lampasio Kabupaten Toli-Toli yaitu :
1.         Bagaimana deskripsi kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Lampasio ?
2.         Bagaimana faktor determinan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Lampasio?
3.         Bagaimana dampak kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Lampasio ?
4.         Bagaimana upaya penanggulangan dan pemecahan masalah dari kasus tersebut ?

C.     TUJUAN
Adapun tujuan dalam perumusan masalah di atas adalah :
1.         Untuk mengetahui  deskripsi kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Lampasio ?
2.         Untuk mengetahui  faktor determinan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Lampasio ?
3.         Untuk mengetahui  dampak kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Lampasio ?
4.         Untuk mengetahui  upaya penanggulangan dan pemecahan masalah dari kasus tersebut ?

BAB II
TINJAUAN KASUS

Seluruh wilayah Indonesia mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue karena virus penyebab clan nyamuk penularnya tersebar luas baik di rumah maupun tempat- tempat umum, kecuali yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut. Pada saat ini seluruh propinsi di Indonesia sudah terjangkit penyakit ini baik di kota maupun desa terutama yang padat penduduknya dan arus transportasinya lancar. Menurut laporan Ditjen PPM clan PLP penyakit ini telah tersebar di 27 propinsi di Indonesia.
Desa Lampasio, Desa Tinading, Desa Sibea, dan Desa Oyom merupakan bagian dari Kecamatan Lampasio dan wilayah kerja Puskesmas Lampasio yang juga merupakan bagian dari pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten Toli-Toli dengan jumlah penduduk 15542 jiwa yang terdiri dari 8172 jiwa penduduk laki-laki dan 7370 jiwa penduduk perempuan.
Lokasi kejadian DBD berada di 4 desa di Kecamatan Lampasio wilayah kerja Puskesmas Lampasio Kabupaten Toli-Toli. Kasus DBD mulai terjadi pada tanggal 28 Februari 2011 dan dilakukan penyelidikan kasus pada tanggal 15 Maret 2011. Pelaksanaan penyelidikan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Toli-Toli bersama dengan Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah yang dilakukan secara lintas program dan lintas sektor, yaitu :
Lintas Program di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Toli-Toli :
1)    Kasie Sepim Kesma Dinkes Kab Toli-Toli.
2)    Pengelola Surveilans Dinkes Kab. Toli-Toli.
3)    Pengelola DBD Dinkes Kab. Toli-Toli.
4)    Tim Investigasi Puskesmas Lampasio
Lintas Sektor Terkait : Pemerintah setempat (Kepala desa Bomba Kec. Una-Una).
Pemastian diagnosis
Pemastian diagnosis dilakukan dengan melihat gejala klinis yang muncul pada penderita dan melakukan pengambilan sampel darah pada beberapa orang penderita yang sedang dirawat. Pemeriksaan sediaan darah dengan menggunakan Rapid Test Diagnostic (RDT) yang dilakukan oleh analis kesehatan Puskesmas Lampasio.
Dari hasil pengumpulan data yang dilakukan terhadap 44 kasus DBD, dengan gejala klinis digambarkan sebagai berikut berdasarkan data hasil investigasi lapangan :
a.       Demam yang di alami semua penderita DBD
b.      Sakit ulu hati yang di alami 7 orang penderita
c.       Perdarahan yang di alami 31 orang penderita
d.      Muntah yang di alami 7 orang penderita
e.       Batuk yang di alami 20 orang penderita



BAB III
PEMBAHASAN

A.    ASPEK EPIDEMIOLOGI KASUS
1.      DESKRIPSI KASUS
a)        Person
Berdasarkan kelompok umur 
Distribusi Kasus DBD menurut kelompok umur di Wilayah Puskesmas Lampasio Kec. Lampasio, Kab. Toli-Toli Bulan Maret Tahun 2011.

No
Kelompok Umur (Thn)
Jumlah Kasus
Sakit
Mati
1
≤ 12
22
0
2
13 – 24
2
1
3
25 – 36
6
0
4
37 – 48
13
0
5
> 49
1
0
Jumlah
44
0
Dari tabel diatas terlihat bahwa kelompok umur yang terbanyak sakit berada pada kelompok umur ≤ 12 tahun sebanyak 22 orang, terendah pada kelompok umur > 49 tahun sebanyak 1 orang.
Berdasarkan jenis kelamin
Distribusi Kasus DBD menurut jenis kelamin di Wilayah Puskesmas Lampasio,  Kec. Lampasio, Kab. Toli-Toli Bulan Maret Tahun 2011 :
1)      Laki-laki yang sakit 21 orang
2)      Perempuan yang sakit 23 orang dan meninggal 1 orang


b)        Time
Berdasarkan hasil investigasi, awal mulai sakit tanggal 28 Pebruari 2011 dengan jumlah penderita 2 orang dan mengalami puncak kasus pada tanggal 9 Maret 2011 dengan peningkatan kasus sebanyak 8 orang, sehingga jumlah kasus secara keseluruhan adalah 44 kasus.
c)        Place

Distribusi Kasus DBD menurut tempat tinggal penderita pada KLB di Wilayah Puskesmas Lampasio, Kec. Lampasio, Kab. Toli-Toli Bulan Maret Tahun 2011 berdasarkan hasil investigasi lapangan sebagai berikut :
1.      Desa Lampasio yang sakit 20 orang
2.      Desa Tinading yang sakit 18 orang
3.      Desa Sibea yang sakit 2 orang
4.      Desa Oyom yang sakit 4 orang dan meninggal 1 orang

2.      FAKTOR DETERMINAN
a)        Faktor host

1)        Sistem imunitas
Sistem imunitas sangat penting dalam pertahanan tubuh, sehingga apabila sistem imunitas seseorang tinggi, maka infestasi virus yang dibawah oleh nyamuk aedes aygepty tidak dapat membuat seseorang sakit dan sebaliknya. Kelompok umur yang banyak menderita DBD di Desa Lampasio, Desa Tinading, Desa Sibea, dan Desa Oyom adalah anak-anak umur di bawah 12 tahun.
2)      Perilaku
Perilaku masyarakat yang membuang sampah kaleng-kaleng bekas maupun plastik-plastik yang dapat menjadi sarang nyamuk masih sangat rendah, hal ini didasarkan masih banyak kaleng-kaleng bekas dan plastik-plastik yang ditemukan di sekitar rumah penderita DBD.
3)      Pengetahuan
Pengetahuan masyarakat masih sangat minim mengenai demam berdarah dengue dan cara pemberantasan dan pengendaliannya di rumah, sehingga pengendalian vektor masih sangat minim di lingkungan keluarga.

b)        Faktor agent
Aedes Aegypty lebih suka bersarang di air bersih, oleh karena itu kasus demam berdarah biasanya muncul pada setiap musim penghujan karena terdapat genangan air di mana-mana dengan masa inkubasi 3 sampai 14 hari, umumnya 4 sampai 7 hari
Dibandingkan orang dewasa, anak-anak cenderung lebih mudah terserang penyakit demam berdarah karena mempunyai daya tahan tubuh yang lebih lemah.
Cara penularan
Mekanisme penularan terjadi melalui gigitan nyamuk yang memang telah ada di wilayah tersebut dimana sebelumnya penderita yang pertama kali terpapar kasus DBD mempunyai riwayat bepergiaan ke daerah endemis DBD dimana penderita tersebut bersekolah di Kota Toli-Toli yang kemungkinan Virusnya didapat di kota.
c)        Faktor environment

1)      Sanitasi lingkungan
Hasil survey jentik ditemukan beberapa karakteristik di Desa Lampasio, Desa Tinading, Desa Sibea, dan Desa Oyom yaitu terdapat tempat-tempat perindukan nyamuk seperti tempurung kelapa, ban-ban, kaleng-kaleng bekas di sekitar rumah penderita merupakan media yang cepat berkembang biaknya nyamuk-nyamuk aedes aygepty  dan setelah dilakukan pemeriksaan terhadap jentik-jentik nyamuk ternyata paling banyak jenis jentik nyamuk Aedes.
2)      Cuaca
Lingkungan yang kurang bersih merupakan media yang cepat berkembang biaknya nyamuk-nyamuk aedes aygepty yang didukung dengan kondisi curah hujan  tidak menentu sehingga  penyebaran penyakit ini menjadi cepat menular kepada penduduk yang berada didesa tersebut.

3)      DAMPAK KASUS

Dampak kasus DBD di Desa Lampasio, Desa Tinading, Desa Sibea, dan Desa Oyom di antaranya adalah :
a.       Menyebabkan 1 kasus kematian dan 44 kasus penderita yang sakit.
b.      Peningkatan status menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD
c.       Menurunnya kehadiran sekolah karena kelompok umur yang paling banyak adalah umur di bawah 12 tahun
d.      Meningkatkan biaya perawatan dalamn dan luar pelayanan kesehatan
e.       Dampak sosial yang terjadi adalah menurunnya interaksi sesama warga.


4)      UPAYA PENANGGULANGAN DAN PEMECAHAN KASUS
Adapun upaya yang dilakukan dalam penanggulangan dan pemecahan DBD di wilayah Puskesmas Lampasio adalah :
a)      Melakukan fogging wilayah dua siklus dimana satu minggu setelah siklus pertama dilakukan fogging siklus kedua.
b)      Melakukan abatisasi di sekitar wilayah kejadian KLB DBD.
c)      Penyuluhan dilakukan dengan koordinasi lintas sektor dan lintas program.
d)     Pembinaan terhadap petugas surveilans puskesmas dalam hal SKD KLB.
e)      Melakukan surveilans ketat hingga KLB dinyatakan berhenti.
Adapun upaya penanganan kasus DBD di wilayah Puskesmas Lampasio adalah :
1.      Pemberian obat yang mengandung acetaminofen, misalnya tilenol, sangat disarankan bagi penderita demam berdarah untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam.
2.      pemberian cairan tubuh (lewat minuman atau elektrolit) untuk mencegah dehidrasi akibat demam dan muntah.
3.      Transfusi darah akibat pendarahan yang terjadi pada penderita DBD yang lebih parah.

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Telah terjadi KLB DBD di Desa Lampasio, Desa Tinading, Desa Sibea, dan Desa Oyom dengan jumlah penderita 44 orang berdasarkan kriteria KLB. Kelompok umur ≤ 12 tahun merupakan kelompok umur yang paling banyak menderita DBD dengan jumlah kasus 22 orang. Untuk memastian diagnosis melalui hasil pemeriksaan Laboratorium dan pemeriksaan jentik nyamuk.

B.     Saran

1.      Pembasmian sarang nyamuk/wadah tempat berkembang biaknya nyamuk aedes di setiap tempat.
2.      Penyuluhan Kesehatan Masyarakat sangat dibutuhkan dalam upaya memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat dalam mencegah terjadinya penyakit dan juga kematian


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2001. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue dan Demam Berdarah . Jakarta : Ditjen PPM dan PL Depkes RI.


Demam Berdarah. http://id.wikipedia.org/wiki/demam berdarah dengue


Poskan komentar dengan
Poskan komentar dengan

1 komentar:

  1. Saya didiagnosis Herpes 2 tahun yang lalu dan saya telah mencoba semua cara yang mungkin untuk mendapatkan obatnya tetapi tidak berhasil, sampai saya melihat sebuah posting di forum kesehatan tentang seorang Dokter Herbal (Dr Akhigbe) yang menyiapkan obat-obatan herbal untuk menyembuhkan semua jenis. penyakit termasuk Herpes, pada awalnya saya ragu, apakah itu nyata tetapi memutuskan untuk memberinya percobaan, ketika saya menghubungi Dr Akhigbe melalui Emailnya: drrealakhigbe@gmail.com dia membimbing saya dan menyiapkan obat herbal dan mengirimkannya kepada saya melalui jasa pengiriman kurir, ketika saya menerima paket (jamu) Dia memberi saya petunjuk tentang cara mengkonsumsinya, saya mulai menggunakannya seperti yang diperintahkan dan saya berhenti mendapatkan wabah dan luka mulai menghilang, bisakah Anda percaya saya sembuh dari virus mematikan ini dalam dua hingga tiga minggu dan pemberitahuan perubahan di tubuh saya. Berhari-hari menggunakan PEMULIHAN ini, tidak bisa mempercayai penyembuhan pada awalnya sampai saya melihatnya sebagai HERPES saya sembuh seperti sihir Dr Akhigbe juga menggunakan obat herbal untuk menyembuhkan penyakit seperti, HIV, HERPES, KANKER, ALS, PENYAKIT KRONIS, PENYAKIT JANTUNG , LUPUS, ASTHMA, DIABETES HEPATITIS A DAN B.ECZEMA, BACK PAIN, INFEKSI EKSTERNAL, ASTHMA, MALARIA, DEMAM BERDARAH, BACTERIA DIARRHEA, RABI, PROGERIA, MENINGITIS, EPILEPSI, STONE, GULA HULU, GELOMBANG HUBUNGI JUGA, GULA HAK THYROID, DINGIN & FLU, PENYAKIT GINJAL, ACME. API LUKA. dll. Hubungi dokter herbal yang hebat ini hari ini bapak obat herbal. via Email: drrealakhigbe@gmail.com atau whatsapp dia +2349010754824 dan sembuh secara permanen. Dia nyata..website: https: drrealakhigbe.weebly.com

    BalasHapus