Sabtu, 26 Oktober 2013

KETERPAPARAN DAN KERENTANAN PENYAKIT LEPTOSPIROSIS DITINJAU DARI ASPEK EPIDEMIOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Leptospirosis termasuk penyakit menular zoonosis disebabkan oleh Leptospira interogans, golongan spirochaeta yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Leptospirosis merupakan zoonosis yang paling tersebar luas di dunia. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Adolf Weil dengan gejala panas tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit dengan gejala tersebut oleh Goldsmith (1887) disebut sebagai “Weil’s Disease”. Pada tahun 1915 Inada berhasil membuktikan bahwa Weil’s Disease disebabkan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae. Sejak itu beberapa jenis leptospira dapat diisolasi dengan baik dari manusia maupun hewan.
Leptospirosis menjadi masalah di dunia karena angka kejadian yang dilaporkan rendah di sebagian besar negara, oleh karena kesulitan dalam diagnosis, sehingga kejadian pasti tidak dapat diketahui, walaupun demikian di daerah tropik yang basah diperkirakan terdapat kasus leptospirosis sebesar 10-30 per 100.000 penduduk pertahun. Kendala pelaporan leptospirosis mirip dengan gejala influenza, penyakit kuning, hemorrhage paru-paru, Myocarditis dan meningitis serta tidak tersedianya alat deteksi dini.
WHO memberi perhatian khusus terhadap leptospirosis oleh karena saat ini prevalensinya yang masih tinggi di berbagai daerah dan dapat menyebabkan kematian secara mendadak (penyakit akut). Penularan leptospirosis yang terjadi di beberapa wilayah merupakan simbol buruknya sanitasi, sumber air yang tercemar, perilaku hidup sehat (personal hygiene) yang rendah, kondisi perumahan yang di bawah standar dan persisten rodent penyebar leptospira.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui deskripsi mengenai epidemiologi penyakit leptospirosis dan kerentanan dan keterpaparan penyakit leptospirosis ditinjau dari aspek epidemiologi.

C.     Tujuan penulisan

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui deskripsi mengenai epidemiologi penyakit leptospirosis dan kerentanan dan keterpaparan penyakit leptospirosis ditinjau dari aspek epidemiologi.

BAB II
PEMBAHASAN LEPTOSPRIROSIS

A.    Pengertian
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan leptospira. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever, Slime fever (Shlamn fieber), Swam fever, autumnal fever, infectious jaundice, field fever, cane cutter dan lain-lain dengan masa inkubasi selama 4 - 19 hari. Leptospirosis merupakan istilah untuk penyakit yang disebabkan oleh semua leptospira tanpa memandang serotipe tertentu. Hubungan gejala klinis dengan infeksi oleh serotipe yang berbeda membawa pada kesimpulan bahwa satu serotipe Leptospira mungkin bertanggung jawab terhadap berbagai macam gambaran klinis; sebaliknya, satu gejala seperti meningitis aseptik, dapat disebabkan oleh berbagai serotipe. Karena itu lebih disukai untuk menggunakan istilah umum leptospirosis dibandingkan dengan nama serupa seperti penyakit Weil dan demam kanikola.

B.     Etiologi
Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh bakteri pathogen (dapat menyebabkan penyakit) berbentuk spiral termasuk dalam genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil, obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2 spesies yaitu L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa adalah saprofitik.
Berdasarkan temuan DNA pada beberapa penelitian terakhir, 7 spesies patogen yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars) telah berhasil diidentifikasi. Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini adalah kambing dan sapi.
Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda. Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan pengerat dan tikus. Hewan tersebut paling sering ditemukan di seluruh belahan dunia.

C.     Cara Penularan

Infeksi pada manusia dapat terjadi melalui beberapa cara berikut ini :

1)      Kontak dengan air, tanah, dan lumpur yang tercemar bakteri.
2)      Kontak dengan organ, darah, dan urin hewan yang terinfeksi.
3)      Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Berdasarkan berbagai data, infeksi yang sering adalah melalu cara yang pertama. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet atau luka dan mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan penyakit ini dapat melalui kontak dengan kulit intak (sehat) terutama bila kontak lama dengan air. Hewan penular utama pada manusia adalah tikus. Di Amerika Serikat penular terbesar adalah anjing. Di Indonesia, infeksi ini banyak terjadi di daerah banjir. Detergen, bahkan konsentrasi rendah sekalipun, terbukti dapat menghambat perkembangan hidup leptospira.
Faine S. menyatakan bahwa terdapat tiga pola epidemiologi leptospira, yaitu :
1.      Penularan via kontak langsung, biasanya pada daerah beriklim sedang, sering terjadi di peternakan sapi atau babi.
2.      Penularan atau penyebaran penyakit karena kontaminasi yang luas pada lingkungan, biasanya pada iklim tropis-basah (musim hujan). Paparan pada manusia secara lebih luas tidak terbatas karena pekerjaan.
3.      Penularan via infeksi rodensia pada lingkungan perkotaan yang kumuh.

D.    Manifestasi Klinik
Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2 - 26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosa. Infeksi L. interrogans dapat berupa infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat, Hampir 15-40 persen penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi serologis positif. Sekitar 90 persen penderita jaundis ringan, sedangkan 5-10 persen jaundis berat yang sering dikenal sebagai penyakit Weil. Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik. Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi Leptospirosis yang berat.
1.      Fase Septisemik
Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan hati.
2.      Fase Imun
Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak dapat didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.
Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala. Pada pemeriksaan fungsi hati didapatkan jaundis, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas.Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.
Leptospirosis dapat diisolasi dari darah selama 24-48 jam setelah timbul jaundis. Pada 30 persen pasien terjadi diare atau kesulitan buang air besar (konstipasi), muntah, lemah, dan kadang-kadang penurunan nafsu makan. Kadang-kadang terjadi perdarahan di bawah kelopak mata dan gangguan ginjal pada 50 persen pasien, dan gangguan paru-paru pada 20-70 persen pasien.
Gejala juga ditentukan oleh serovar yang menginfeksi . Sebanyak 83 persen penderita infeksi L. icterohaemorrhagiae mengalami ikterus, dan 30 persen pada L. pomona. Infeksi L. grippotyphosa umumnya menyebabkan gangguan sistem pencernaan. Sedangkam L. pomona atau L. canicola sering menyebabkan radang selaput otak (meningitis).

E.     Pencegahan

Dapat dilakukan dengan cara :

1.      Membiasakan diri dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

2.      Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus

3.      Mencuci tangan, dengan sabun sebelum makan

4.      Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/ sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya

5.      Melindungi pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas kebersihan, petani, petugas pemotong hewan dan lain lain ) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan.

6.      Menjaga kebersihan lingkungan

7.      Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah

8.      Membersihkan tempat tempat air dan kolam kolam renang.

9.      Menghindari adanya tikus didalam rumah atau gedung.

10.    Menghindari pencemaran oleh tikus.

11.    Melakukan desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh tikus.

12.    Meningkatkan penangkapan tikus .


F.      Pengobatan

Leptospira adalah penyakit yang self-limited. Secara umum prognosisnya dalah baik. Antibiotik yang dapat diberikan antara lain :

1.      Penyakit sedang atau berat : penisilin 4 x 1,5 IU atau amoksilin 4 x 1 gr selama 7 hari.

2.      Penyakit ringan         : ampisilin 4 x 500 mg, amoksilin 4 x 500 mg, atau eritromisin 4 x 500 mg.

 

G.    Pengendalian dan pemberantasan Leptospirosis
Pengendalian dan pemberantasan leptospirosis dapat dilakukan dengan tiga jalur intervensi :
a)      Intervensi sumber infeksi
Penularan dapat dicegah dengan sebagai berikut :
a.       Melakukan tindakan isolasi atau membunuh hewan yang terinfeksi
b.      Memberikan antibiotik pada hewan yang terinfeksi
c.       Mengurangi populasi tikus
d.      Meniadakan akses tikus ke lingkungan pemukiman
e.       Mencegah tikus dan hewan liar lain tinggal di habitat manusia
f.       Melakukan vaksinasi hewan ternak dan hewan peliharaan
g.      Membuang kotoran hewan peliharaan
b)      Intervensi pada jalur penularan
a.       Memakai alat pelindung kerja
b.      Mencuci luka dengan cairan antiseptik dan ditutup dengan plester.
c.       Mencuci atau mandi dengan sabun antiseptik
d.      Meningkatkan kesadaran terhadap potensi risiko dan bagaimana mencegah pajanan
e.       Melindungi sanitasi air minum penduduk dengan pengelolaan air minum yang baik
f.       Memberikan peringatan kepada masyarakat
g.      Mekanisasi pekerjaan dengan risiko pajanan yang tinggi, seperti pekerja pemotongan hewan, perkebunan, dokter hewan.
h.      Manajemen ternak yang baik
i.        Menerapkan prosedur kewaspadaan standar di laboratorium dan bangsal perawatan.
c)      Intervensi pada manusia
a.       Menumbuhkan sikap waspada dengan upaya edukasi
b.      Memberikan profilaksis pasca pajanan.

BAB III
ASPEK EPIDEMIOLOGI LEPTOSPIROSIS

A.    Distribusi Kasus
a)         Person
Untuk kategori orang, mereka yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah mereka yang bekerja di sektor petani, peternak, pekerja tebu, dokter hewan, penjual susu, Mereka-mereka itu jika di lihat dari segi profesinya. Jika berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai resiko yang tinggi terpapar bakteri leptospira ini. Selain itu, penyakit ini dapat terjadi pada orang-orang yang terpajan dengan sungai, atau danau yang airnya tercemar denga urine binatang terinfeksi bakteri leptospira.
b)        Place
Tempat-tempat yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah daerah persawahan, daerah rawa, lahan gambut, dan daerah kumuh.
c)         Time
Waktu penyebaran penyakit Leptospirosis secara umum pada musim hujan, tapi tidak selamanya pada musim hujan mempunyai insidensi tinggi untuk penyakit Leptospirosis, tergantung pada genangan air yang akan terbentuk jika terjadi hujan. Itupun juga kalau terjadi banjir dengan hasil banjir yang memukau. Meskipun bukan musim hujan , kalau tetap masih ada juga genangan air yang tercemar bakteri leptospira yang berasal dari urin tikus akan terinfeksi penyakit Leptospirosis.

B.     Faktor Determinan
a)      Faktor Host
1)      Perilaku
Faktor individu yang merupakan faktor risiko kejadian leptospirosis adalah kontak dengan air, tanah (lumpur), tanaman yang telah dikotori oleh air seni penderita leptospirosis, berjalan tanpa alas kaki di luar rumah.
2)      Sistem imunitas
Sistem imunitas sangat penting dalam pertahanan tubuh, sehingga apabila sistem imunitas seseorang tinggi, maka infestasi bakteri leptospira yang dibawah oleh hewan pengerat tidak dapat membuat seseorang sakit dan sebaliknya.
3)      Pengetahuan
Pengetahuan tentang penyakit leptospirosis dan penanganan serta pencegahannya wmasih sangat minim dan masih banyak orang awam tidak mengenal penyakit ini, hal ini menjadi faktor mudahnya seseorang terkena penyakit ini.
b)      Faktor Agent
Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil disebut spirochaeta. Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan pengerat dan tikus. Hewan tersebut paling sering ditemukan di seluruh belahan dunia.

Infeksi pada manusia dapat terjadi melalui beberapa cara berikut ini :

1)        Kontak dengan air, tanah, dan lumpur yang tercemar bakteri.
2)        Kontak dengan organ, darah, dan urin hewan yang terinfeksi.
3)        Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Berdasarkan berbagai data, infeksi yang sering adalah melalu cara yang pertama. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang lecet atau luka dan mukosa, bahkan dalam literatur disebutkan bahwa penularan penyakit ini dapat melalui kontak dengan kulit intak (sehat) terutama bila kontak lama dengan air. Hewan penular utama pada manusia adalah tikus.
c)      Faktor Environment
1)      Faktor lingkungan fisik
Faktor risiko dari lingkungan fisik adalah kondisi lingkungan baik di dalam maupun di luar rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
2)      Faktor lingkungan biologi
Faktor lingkungan biologis seperti keberadaan hewan ternak, hewan kesayangan dan hewan tikus dapat menjadi sumber penularan leptospirosis.

C.     Riwayat Alamiah Penyakit
1.      Prepatogenesis
Leptospirosis biasanya dapat melalui tikus. Penyakit ini dapat ditularkan melalui air ( water borne disease ). Dan urin dari individu yang telah terserang bakteri Leptospira sp. merupakan sumber utama penularan penyakit ini.
Misalnya: air kencing tikus terbawa banjir, dan terjadi kontak antara manusia dengan air yang sudah tercemar oleh air kencing tikus yang telah terserang bakteri Leptospira sp. Kuman leptospira biasanya memasuki tubuh melalui luka atau lecet kulit, dan kadang-kadang melalui selaput di dalam mulut, hidung, dan mata.
2.      Patogenesis
      Ada 4 tahapan, yaitu:
a.      Tahap inkubasi
      Masa inkubasi penyakit Leptospirosis pada manusia yaitu 2-26 hari.
b.      Tahap penyakit dini
      Timbul masalah kesehatan seperti demam, batuk kering, nyeri tenggorokan,  nyeri dada, nyeri otot, nyeri kepala, takut cahaya, muntah, dan mata merah. Tapi ada juga penderita yang tidak menunjukkan tanda-tanda seperti yang disebutkan di atas.
c.       Tahap penyakit lanjut
      Pada penderita leptospirosis yang lebih lanjut dapat menimbulkan penyakit yang lebih parah seperti:
Sindrom Weil
      Yaitu bentuk leptospirosis berat yang ditandai dengan jaundis (kulit dan mukosa menjadi kuning), disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan
1)      Tanda pada paru-paru: terjadi batuk,, nyeri dada, sputum darah, dan gagal napas.
2)      Penderita dengan jaundis berat lebih mudah terkena gagal ginjal.
3)      Jika menyerang hati akan terdapat ikterus ( penyakit kuning ), hepatomegali ( perbesaran hati ), perdarahan dan perbesaran limpa ( splenomegali ).
4)      Perdarahan subkonjungtiva: yaitu komplikasi pada mata. Hal ini sering terjadi pada 92% penderita leptospirosis.
5)      Makular atau rash makulopapular, nyeri perut mirip apendisitis akut, pembesaran kelenjar limfoid mirip infeksi mononukleosis.
6)       Komplikasi ke selaput otak ( terjadi radang otak/ meningitis) dapat menimbulkan gejala nyeri kepala, kejang-kejang, leher kaku, dan penurunan kesadaran.
7)      Pada penderita leptospirosis dengan usia lanjut ( 50 tahun ke atas ) dengan gangguan hati dapat mengakibatkan risiko kematian sebesar 20-49 persen.
d.      Tahap penyakit akhir
1)      Sembuh sempurna
Penderita diberi obat berupa antibiotik sebelum penyakit semakin parah. Hal ini memungkinkan si penderita akan sembuh total dari leptospirosis.
2)       Sembuh dengan cacat
      Misal pada penderita leptospirosis yang mengalami komplikasi pada mata (perdarahan subkonjungtiva) bisa mengakibatkan kebutaan bila terjadi perdarahan yang cukup berat.
3)      Karier
      Pada umumnya leptospirosis diobati menggunakan antibiotik. Jika si penderita merasa sudah sembuh dan menghentikan meminum antibiotik, padahal belum habis. Maka kuman penyebab leptospirosis itu hanya melemah dan tidak sembuh sempurna, sehingga dapat kambuh sewaktu-waktu jika ada faktor pemicunya.



BAB IV
KETERPAPARAN DAN KERENTANAN

A.    Keterpaparan
Untuk kategori orang, mereka yang beresiko terpapar bakteri leptospira adalah mereka yang bekerja di sektor petani, peternak, pekerja tebu, dokter hewan, penjual susu, Mereka-mereka itu jika di lihat dari segi profesinya. Jika berdasarkan jenis kelamin, laki-laki mempunyai resiko yang tinggi terpapar bakteri leptospira ini. Selain itu, penyakit ini dapat terjadi pada orang-orang yang terpajan dengan sungai, atau danau yang airnya tercemar denga urine binatang terinfeksi bakteri leptospira. Karena mereka berada dalam kondisi berinteraksi dengan unsur penyebab.

B.     Kerentanan
Kelompok rentan leptospirosis, antara lain, petani, pekerja tambang, peternak, nelayan perairan darat, pekerja di rumah potong hewan, dokter dan perawat hewan, serta orang-orang di instalasi pengolah limbah. Mereka yang gemar berolahraga air juga rentan. Warga biasa berisiko tertular setelah banjir.
Kerentanan akan berlanjut menjadi status sakit apabila orang/pejamu tidak memiliki sistem imunitas yang tinggi dan pola asupan makanan yang baik dimana dapat memberikan imunitas melalui zat gizi yang terkandung dalam makanan tersebut.
BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptopsira sp. Dengan manifest berubah-ubah. Ciri-ciri umum dari penyakit ini adalah demam denga serangan tiba-tiba, sakit kepala, menggigil, mialgia berat (betis dan kaki) dan merah pada conjuctiva. Manifest lain yang mungkin muncul adalah demam diphasic, meningitis, ruam, anemia, perdarahan dalam kulit dan selaput lendir, gangguan mental dan depresi, myocarditis dan pnemonia. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Adolf Weil dengan gejala panas tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit dengan gejala tersebut diatas oleh Goldsmith (1887) disebut sebagai “Weil’s Disease”.
Secara epidemiologik, kejadian leptopsirosis dipengaruhi oleh 3 faktor pokok, yaitu faktor agent penyakit, seperti jumlah, virulensi, dan patogenitas bakteri leptospira; faktor host (pejamu), seperti kebersihan perorangan, kebiasaan menggunakan alat pelindung diri ketika sedang bekerja di tempat berisiko leptospirosis, keadaan gizi, usia, dan tingkat pendidikan; dan faktor lingkungan, seperti lingkungan fisik, kimia, biologik, dan sosial. Leptospirosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia khususnya di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis serta memiliki curah hujan yang tinggi. Tingginya angka prevalensi leptospirosis di daerah yang memiliki iklim tropis dan subtropis, dapat dihubungkan dengan kondisi lingkungan yang kurang baik sehingga memungkinkan lingkungan tersebut menjadi tempat yang baik atau cocok untuk hidup dan berkembangbiaknya bakteri leptospira.
Sumber penularan penyakit ini adalah tikus, babi, sapi, anjing, hamster. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi hopes alternatif, biasanyan berperan sebagai carrier dalam waktu singkat seperti rubah, tupai, rusa.
Untuk pengobatan pada manusia pengobatan Leptospirosis yang ringan dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, atau amoksisillin. Sedangkan Leptospirosis yang berat dapat diobati dengan penisillin G, ampisillin, amoksisillin dan eritromisin. Pencegahanya dapat dilakukan dengan metode perilaku hidup bersih dan sehat.

B.     Saran
1.      Perlu dilakukan penyebaran informasi kepada masyarakat luas tentang penyakit leptospirosis, pentignya menjaga personal higyene, menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi untuk menghindari masyarakat dari leptospirosis.
2.      Untuk mengurangi keterpaparan dengan kotoran rodent maka disarankan perilaku kebiasaan mencuci kaki, tangan dan tubuh lainnya dengan sabun, menggunakan sepatu bot dan sarung tangan pada saat kotak dan genagan air.
3.      Peran serta skateholder dalam mengembangkan Kewaspadaan Dini (SKD) terhadap penyakit leptospirosis untuk melihat keadaan penyakit ini di masyarakat sehingga pemberantasan penyakit dapat dilakukan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Poengan, Masniari. 2007. Leptospirosis. Bogor : Balai Besar Penelitian Veteriner
Susanti, Eni. 2010. Leptospirosis Penambah wawasan dan mengasah kepedulian.
          Dari http://www.leptospirosis.org/
Widarso HS dan Wilfried. 2002. Kebijaksanaan Departemen Kesehatan dalam Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia. Kumpulan Makalah Simposium Leptospirosis. Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis : Epidemiologi, penularan, pencegahan dan pemberantasan. Jakarta : Erlangga
Poskan komentar dengan
Poskan komentar dengan

Tidak ada komentar: